Selasa, 08 Januari 2008


New Year = New Spirit


Mari sedikit me-review lagi kehidupan kita yang satu- satunya dan sekali-kalinya ini. Tahun 2007 kini berangsur lalu, 'kan menjadi kenangan yang menorehkan beragam kisah dan rasa. Tahun yang tentunya banyak asa tercipta, tapi terwujudnya? Tahun 2007 yang sudah berlalu pasti tidak akan kembali. Jadi, sepertinya tidak perlu ada yang disesali. Karena inilah hidup yang hanya dapat dimengerti ke belakang, tapi harus dijalani ke depan.

Tahun 2008 kita tapaki. Sekarang, fokuskan pembahasan kita tentang apa yang bakal kita lakukan di tahun 2008 ini dengan usia yang makin dewasa. Dengan hidup yang makin berwarna dan banyak pilihan. Agar warna kita jelas dan pilihan kita jitu, tentu kita harus tahu dulu orientasi hidup kita ini bakal dikemanakan? Hidup yang pasti kan bemuara pada satu titik dan titik itu bernama kematian.

Sebagai ummat Islam, tentu orientasi kita sudah jelas dan terarah, karena panduannya adalah Al-Qur'an plus Hadits Nabi, tentu Hadist Nabi yang Shahih, bukan hadits yang tidak jelas perawinya, apalagi hadits palsu. Sebagai ummat Islam yang sadar benar kalau hidup adalah serangkain episode yang telah diskenariokan oleh Allah SWT, sang penguasa yang tidak akan pernah sanggup ditentang oleh siapa pun dan dalam keadaan apa pun, tentunya kita sudah pada tahu kalau wilayah "kekuasaan" kita tuk mewujudkan segala hal yang ada di benak kita adalah ikhtiar dan memaksimalkan ikhtiar itu.

Pertanyaannya adalah, sudahkah selama ini kita memaksimalkan ikhtiar tuk mewujudkan hal yang masih tertata rapi di benak kita? Kalau jawabannya, ya sudah maksimal tapi tidak terwujud juga, apa yang kita inginkan? Maka pertanyaan selanjutnya, kita sudah "kencengin" do'anya belum? Seandainya kita menjawab bukan hanya memaksimalkan ikhtiar, sudah di titik darah penghabisan, dan do'a pun sudah kelewat "kenceng", tapi tetap saja hasilnya nihil. Maka, ringkas kata, intinya kita gagal mewujudkan asa pada tahun 2007 yang kini berangsur lalu, sementara tahun 2008 kini menjambangi. Kecewa? Pasti. Putus asa? Tunggu dulu!

Dirunut dari kecewa, sebagai manusia, tentunya wajar sekali kalau hasil usaha kita tidak membuahkan hasil, rasa kecewa menyeruak di pendaman rasa. Hal itu tidak perlu dipungkiri, tapi harus disikapi layaknya muslim dewasa yang sudah tidak asing dengan ayat yang menyatakan bahwa boleh jadi kita menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagi kita dan sebaliknya (lihat QS. Al-Baqarah : 216).

Bagaimana dengan putus asa? Kita buka lagi panduan kita pada QS. Yusuf ayat 87, "... Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." Ketika ikhtiar telah maksimal dilakukan, do'a telah mengalir dipanjatkan, tapi ternyata kenyataan tak seindah angan di ruang imajinasi yang tersusun rapi pada barisan rencana, saat itulah sikap tawakaltu Illallah kita perankan. Yakinlah Rencana Allah lebih indah dari rencana di benak kita. Pasrah bukan sebagai seorang "pecundang" yang tak berbuat apa–apa, tapi sebagai seorang pejuang yang telah bersusah melakukan yang terbaik, berjuang mewujudkan asa dan cita–cita yang mengakar kuat di lahan jiwa.

Di tahun 2008 ini, mari kita memulai lagi, menjadikan lebih baik lagi hal yang jelek, memperbaiki yang kurang baik, mengurus yang belum terurus. Jadikan diri kita pejuang tangguh yang tak hanya berjuang mewujudkan asa dan cita–cita diri sendiri, tapi juga asa dan cita–cita banyak hati. Pejuang tangguh yang selalu menggelorakan semangat alias spirit penyangga jiwa. Jika semangat kita telah usang di penghujung tahun 2007, ciptakan semangat baru lagi dengan energi ruhiyah sebagai ummat Islam. Jangan coba–coba berkata "sudahlah" apalagi "cukup sampai di sini", karena perjuangan tak kan pernah berhenti hingga maut menjumput.

Jadi, bersiap–siaplah untuk berjuang seumur hidup, bukan hanya untuk satu atau dua tahun ke depan, tapi sekali lagi, untuk seumur hidup! Sebagaimana dengan stetment Nabi SAW bahwa menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat, maka tidak ada salahnya di awal tahun ini (meski tahun masehi, karena bukan eksistensi tahunnya, tapi substansi perubahan yang kita gagas) kita bilang, "New Year = New Spirit!"