Minggu, 06 Januari 2008


Tiga Musuh Manusia

Kejahatan dan kebaikan merupakan pasangan setia yang tak dapat dipisahkan dari dunia. Keduanya tak jauh beda dengan “si kaya” dan “ “si miskin” : sama-sama ada, sama tak dapat saling menafikan. Karena semuanya merupakan sunnatullah yang tak mungkin dihapuskan. Otoritas manusia hanya sebatas mengurangi atau meminimalisir, tidak lebih.

Kejahatan merupakan musuh kebaikan. Otomatis dia adalah musuh fithrah manusia: yang cinta akan kedamaian dan keamanan. Namun, kejahatan itu ternyata sulit untuk dihindarkan, karena ia merupakan musuh abadi manusia, yang cinta kebenaran itu. Hal yang menjadikan kejahatan itu abadi, karena ia juga bersemayam dalam diri manusia. Itulah namanya musuh.
Yahya ibn Mu`âdz berkata: “Musuh manusia itu ada tiga: dunianya, syaitannya dan jiwa (nafsu)nya sendiri. Maka, berhati-hatilah dari dunia dengan zuhud di dalamnya, dari kejahatan syaitan dengan cara melawannya dan dari jiwa (nafsu) dengan cara meninggalkan segala bentuk syahwat” .

Itulah ketiga musuh manusia. Dan ketiganya adalah jahat, jika tidak dapat dihindari. Karena ketiganya akan mencelakakan manusia dan menyeretnya ke dalam neraka: yang (memang) disediakan bagi mereka yang menjadi budak (hamba) dunia, syaitan dan jiwa (nafsu)nya.

Dunia itu sangat berbahaya. Ia laksana ular: yang setiap saat dapat “memagut” orang yang terlena dalam pelukan dan dekapan kemilaunya. Dalam hadits di atas tampak gamblang, betapa dunia dapat menyihir pemujanya menjadi gelap mata dan lupa daratan. Pada gilirannya, ia menderita penyakit “wahn” . Ia terlalu banyak membangun istana di dalamnya. Sehingga, ia takut untuk meninggalkan istana megahnya itu, takut mati karena takut miskin di akhirat.

Islam bukan agama yang anti-dunia. Namun Islam adalah agama yang memberikan batas yang jelas antara agama (spiritual) dengan dunia (material). Islam adalah agama wasathiyah “Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan jangan kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia...” (Qs. Al-Qashash [28]: 77).

Menjadikan dunia sebagai “musuh” bukan berarti meninggalkannya seratus persen. Namun ambillah dan nikmatilah kenimatan dunia sebatas kebutuhan. Itulah yang diinginkan oleh agama. Bahkan dalam berbagai ayat Al-Quran, Allah menjelaskan urgensi berinfak (bersedekah). Sebut saja misalnya perintah berinfak (Qs. Al-Baqarah [2]: 195, 177 dan Qs. At-Taubah [9]: 60 dan 103) dan yang lainnya. Secara implisit, Allah menganjurkan agar umat Islam itu menjadi umat yang kaya. Sehingga orang lain dapat merasakan nikmat Allah juga, bukan kekayaan yang hanya dimonopoli oleh dirinya sendiri.

Musuh manusia yang kedua adalah syaitan. Dalam bahasa Al-Quran sering disebut dengan “`aduww mubîn” . Secara nyata Allah memang menjelaskan bahwa syaitan adalah “musuh yang nyata” bagi manusia (Qs. Yusuf [12]: 5 dan Qs. Al-Isrâ’ [17]: 53). Bahkan ia disebut sebagai musuh yang nyata-nyata menyesatkan (`aduww mudhill mubîn) (Qs. Al-Qashash [28]: 15). Maka ia harus benar-benar dijadikan sebagai “musuh” (Qs. Fâthir [35]: 6). Sejak zaman moyang manusia (Adam), syaitan memang musuh yang tidak akan pernah menyerah. Hal dijelaskan oleh Allah bahwa syaitan itu musuh Adam dan Hawa’ (Qs. Al-A`râf [7]: 22). Meskipun (memang) sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap nabi diberi musuh dari kalangan syaitan berwujud manusia dan jin oleh Allah (Qs. Al-An`âm [6]: 112).

Oleh karena itu, Allah mewanti-wanti manusia (umat Islam) agar tidak mengikuti jejak (langkah)nya (Qs. Al-Baqarah [2]: 168, 208, dan Qs. Al-An`âm [6]: 142). Bahkan lebih tegas lagi Allah menyatakan agar tidak menyembah syaitan (Qs. Yâsin [36]: 60), agar tidak disesatkan olehnya (Qs. Az-Zukhruf [43]: 62). Jejak-jejak syaitan sudah dapat diterka dan ditebak. Segala jenis kemunkaran, maksiat, perjudian, perzinaan, kebohongan, korupsi, penipuan, penjambretan, perampokan, pemerkosaan dsb merupakan lahan tempat syaitan melancarkan misinya dalam menyesatkan manusia. Belum lagi fenomena tabarruj (wanita miskin busana) yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Kian hari kian membius aktivitas dan produktivitas para remaja Islam. Syaitan menginginkan agar pemuda Islam itu lemah akidah (iman), minim ibadah dan akhirnya mengenyampingkan Islam. Pada gilirannya, Islam tidak memiliki tempat di hati para pemeluknya. Sudah saatnya, dalam hati setiap Muslim berkobar semangat untuk “talak tiga” dengan pengaruh syaitan, agar tidak terjerumus dan terseret kepada rayuan gombalnya.

Musuh manusia yang ketiga adalah dirinya sendiri. Dalam bahasa agama, jiwa sering disebut dengan al-nafsu. Memang, Allah menyatakan bahwa dalam diri manusia terdapat dua tipe nafsu yang saling berperang, al-fujûr dan al-taqwâ. Keduanya saling berlomba untuk mengalahkan yang lainnya. Bahkan Allah bersumpah dalam Kitab-Nya: “Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (Qs. Asy-Syams [91]: 7-8). Dua potensi inilah yang harus dapat dimenej dengan baik. Dalam artian, potensi “kefasikan” jiwa harus benar-benar dapat ditekan, agar ia tidak menjadi potensial, sehingga dapat mengalahkan potensi “ketakwaannya”. Jika tidak, maka jiwa manusia akan cenderung berbuat kekufuran, kefasikan, kezaliman dan tindakan yang tidak dibenarkan oleh agama.

Maka, para ulama memberikan satu cara untuk membersihkan jiwa, agar terhindar dari potensi kefasikan yang dikenal dengan “tazkiyah al-nafs (penyucian jiwa). Karena menurut Allah, orang yang beruntung adalah yang dapat menyucikan jiwanya. Sebaliknya, yang mengotori jiwanya (potensi kefasikannya mengalahkan potensi ketakwaannya) adalah orang yang merugi (Qs. Asy-Syams [91]: 9-10).

Para ulama memberikan contoh bahwa untuk mensucikan jiwa harus melakukan berbagai bentuk ibadah dan kebaikan. Seperti shalat malam (Witir dan Tahajjud), memperbanyak membaca Al-Quran, puasa sunat, banyak beristighfar kepada Allah dan senantiasa introspeksi diri (muhasabah). Sehingga akan semakin tampak bahwa apa yang kita persembahkan kepada Allah belum apa-apa jika dibandingkan dengan nikmat yang kita terima dari-Nya. Mudah-mudahan kita menjadi hamba Allah yang benar-benar mengetahui kedudukan kita. Kedudukan yang menjadikan kita semakin arif dalam menyikapi hidup yang singkat. Hidup yang penuh dengan rintangan dan tantangan. Karena ternyata kita dikelilingi oleh banyak musuh yang merongrong kita: dunia, syaitan dan jiwa kita sendiri. Maka tidak ada bekal yang lebih baik selain takwa dan amal saleh. “Dan berbekallah, dan sebaik-baik bekal adalah takwa” (Qs. Al-Baqarah [2]: 197) dan “Barangsiapa yang ingin menemui Tuhannya, hendaklah ia beramal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” (Qs. Al-Kahfi [18]: 110). Wallâhu a`lamu bi al-shawâb!.
(pertengahan). Tidak melulu memikirkan akhirat, namun juga tidak serta merta menafikan urusan dunia. Dalam hal ini, tuntunan Allah sangat jelas dalam Al-Quran:

Remember the Time

Jangan salah lho, yang di atas ini bukan judul lagunya Michael Jackson the King of Pop. Tapi judul artikel yang kita buat khususon buat sobat semua. Sesuatu yang urgen. Something special. Tapi sayangnya sering kita biarkan berlalu. Ya...itulah waktu.

Sobat, waktu sangat berharga. Bahkan Mr. Adam Smith dengan teori kapitalisme ekonominya pun berkata "time is money". Saking berharganya waktu buat dia. Tapi buat kita yang muslim, apa makna waktu? Apa bagi kita waktu hanyalah perputaran jam, hari bulan dan seterusnya tanpa arti? Apakah waktu sekedar pergantian masa anak, muda dewasa dan tua? Kalo kita pengen sukses di dunia fil akhiroh, trus kita nyia-nyiakan waktu berlalu gitu aja...ngimpi atuh. Justru kesuksesan seseorang itu bisa datang gara-gara manfaatin waktu. Kebahagiaan orang bisa hadir, akibat menseting waktu. Bahkan kita bisa masuk surga atau neraka, gara-gara waktu yang kita jalani. Memilih belajar Islam, memahaminya dan menjalankannya atau hanya sekedar makan, minum tidur dan ke belakang. Ingat boys...hidup ini cuman sekali....

Sobat, sadar ga kalo waktu itu salah satu nikmat Allah yang paling sering kita lupa, padahal kalo kita jalan bareng waktu kita bisa ngelakuin berbagai aktivitas di dunia ini, kita bisa studi, dakwah sama teman, ibadah pada Allah, dan segunung kegiatan lain, pastinya dengan nikmat yang Allah kasih ama kita.
"Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia merugi dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka ia jahil."

Bayangin aja sobat, kalo hari ini sama dengan hari kemarin, maka kita rugi berat loh....Kenapa rugi? Karena waktu yang Allah berikan, ternyata ga sanggup untuk kita manfaatin, padahal waktu adalah nikmat yang langka yang Allah berikan untuk kita. Bayangin aja kalo waktu kelas 1 SMA kamu ga naik kelas, terus tahun ini kamu ga naik lagi. Kamu jadi anak bermutu alias bermuka tua donk di kelas. Malu donk...pengennya disobek aja nih muka. Atau bulan lalu kamu bisa mimpin SKI jadi organisasi hebat..., temen-temenmu banyak yang tertarik. Yang wanita banyak yang berjilbab. Eh..ternyata sekarang, malahan kamu sendiri yang ga aktif di SKI. Malah justru main seruduk sama cewek. Wacaow...mau dikemanain ini malu....Tentunya kita rugi banget gitu loh..

Sobat, sebagai seorang muslim kita kudu bisa manfaatin waktu sebaik-baiknya, karena kalo ga maka kita bisa jadi orang yang useless alias ga berguna . Ada atau ga sama aja. Bahkan kalo ada justru lebih buruk daripada ga ada. Kita bisa-bisa jadi sampah agama. Ngotori Islam. Dan jadi biang kerok kemaksiatan. Padahal umur kita makin pendek, dan ajal kita makin dekat. Tapi tetep aja kita bertingkah. Kaya ga ada urusan sama dosa dan pahala. Ingat fren...Allah udah negur kita di surat Al-'Ashr:
"Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran".

Dahulu di era Rasul, sahabat-sahabat Rasulullah SAW ga pernah gunain waktu mereka untuk hal yang sia-sia, mereka selalu ngingatin orang-orang di sekitar mereka untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya, sampai-sampai salah seorang sahabat pernah ngusir sekelompok pemuda yang tidur dan bermalas-malasan di masjid dan menyuruh mereka untuk bekerja dan mencari rezeki. So,jangan malas apalagi maksiat. Waktu terus bergulir fren...

"Sesungguhnya orang-orang berkata: Rabb (Tuhan) kami adalah Allah kemudian mereka istiqamah, maka tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka berduka cita. (Ad-Dukhan :13).
Itu janji Allah! Nah, siapa yang istiqamah (terus tegar dan tekun di jalan Allah), maka mereka ga akan merasa takut, khawatir dan mereka ga akan sedih hati. Mengapa? Karena orang-orang yang istiqamah pasti bisa ngatur diri mereka sendiri, walau untuk itu mereka harus ngelakuin apa yang tak disukai. Seperti Nabi Ibrahim yang ga ragu jalani perintah Allah untuk menyembelih Ismail, atau nabi Nuh yang ga gundah membuat kapal di tengah gurun pasir yang tandus. Gini nih yang tebel imannya.. top banget Islamnya.

Sobat, seorang sufi pernah berujar "Anak adam adalah kumpulan hari." Jadi, kalau kita nyia-nyiain hari dan nunda pekerjaan yang seharusnya bisa kita kerjakan saat ini, maka itu berarti kita menyia-nyiakan diri kita sendiri. Disia..sia siapa mau? The last thing...remember the time...ingatlah waktu, manfaatin buat diri kita, ortu, teman, atau Islam dan aturannya..demi gapai ridho Illahi.


Kebahagiaan Ada Dalam Syukur Dan Sabar


Kemana engkau akan mencari kebahagiaan hidup? Apakah dengan mendatangi tempat-tempat hiburan malam dapat memberikan kesejukan hati? Dengan meneguk minuman beralkohol serta berbelanja sepuas-puasnya di Mall-Mall? Benarkah segala kegelisahan akan hilang dan kegundahan akan berganti dengan rasa tenang? Pasti jawabannya tidak.
Semua itu tidak lain akan mendatangkan kegundahan baru. Semakin engkau bawa diri dan hanyut dalam bentuk seperti itu, maka engkau akan semakin remuk, perlahan tapi pasti tanpa engkau sadari. Masihkah engkau mengukur kebahagiaan itu dengan limpahan materi, kedudukan yang tinggi, dan nama yang sering disebut-sebut dan di puji? Memang engkau tampak mampu berjalan dengan tenang secara lahiriah, namun batinmu begitu tersiksa, terasa kosong, hampa, terasa tak bermakna.

Sadarilah saudaraku, sesungguhnya ketenangan dan kebahagiaan yang engkau cari ada dalam kerelaan dan kesyukuran diri. Sebuah kesyukuran yang wujud dalam bentuk amal-amal sholehmu dan kelapangan hatimu atas setiap ketentuan yang menghampiri di setiap detik kehidupanmu. Berbahagialah engkau, jika setiap kenikmatan yang menghampirimu menjadikanmu semakin jatuh dalam sujud kesyukuran. Berbahagialah engkau, ketika musibah tiada henti menerpamu, namun engkau tetap tegar dan tak berkeluh kesah atasnya.

Tiada usaha kecuali semua dicoba bungkus dengan kain kesabaran. Dan tiada engkau melihat kedua-duanya kecuali merupakan sebuah bentuk kebaikan. Sungguh ajaib jika engkau mampu berlaku demikian. Dan hanya bagi seorang mukmin sajalah semua itu lebih mudah dilakukan.